Jumat, 22 Maret 2013

Singalove Bag 3



Pagi itu aku mengantar kepergian tante dan om, mereka naik mobil yang biasa mereka gunakan untuk berangkat kerja. Aku memeluk tante dan mengingatkan om untuk berhati-hati selama perjalanan, Danu juga memeluk ayah dan ibu nya. Setelah mobil terlihat agak jauh, Danu menutup pagar dan kembali masuk ke rumah, itu adalah hari minggu jadi kami tidak kuliah. Aku mengikuti Danu masuk ke dalam rumah, dan aku langsung menuju kamarku.
          Aku kikuk dan ga tau bagaimana nanti aku makan siang dan makan malam, biasanya untuk makan siang tante Yuri akan menyiapkan makanan di lemari pendingin dan aku atau Danu tinggal menghangatkannya atau terkadang akan ada seorang ibu yang mengantar makanan enak ke rumah, dia dari sebuah rumah makan diujung jalan, untuk makan malam tante Yuri akan menyiapkannya di meja makan setelah dia pulang kerja, dan kami akan makan bersama setelah om Rudi dan tante Yuri selesai mandi dan berbenah dikamar mereka.
          Aku turun ke lantai bawah dan mengambil segelas air, aku melirik lemari es dan terdapat beberapa jenis sayuran yang bisa dimasak. Ada beberapa potong daging yang siap dimasak, tapi mungkin hanya cukup untuk beberapa hari, bukan untuk tiga bulan kedepan. Bagaimana aku akan makan, hanya berdua dengan si jutek dengan ekspresi dinginnya tanpa pembicaraan sama sekali, seperti dua orang musuh yang sedang berada di meja yang sama. Oh iyah, selama aku naik motor bersamanya pergi dan pulang kuliah, aku hanya seperti patung yang duduk di motor, tanpa bicara, tanpa berani memegang nya sama sekali, aku pasrah aja kalau sampai ditiup angin besar dan jatuh ke jalan.
          Aku kembali ke lantai dua, duduk disofa panjang dan menonton TV sendirian, aku melihat beberapa acara yang sebelumnya ga pernah aku lihat di Indonesia. Aku menonton TV cukup lama untuk mengusir perasaan gelisah ku, tapi perut ku sudah terasa lapar, dan aku sama sekali belum melihat Danu keluar dari kamarnya. Sudah jam 2 siang, dan aku ga akan sanggup bertahan lagi. Aku turun kebawah dan memotong beberapa sayuran di dapur, beberapa daging cincang, dan aku mulai memasak. Aku bukan seorang gadis yang pandai memasak, tapi aku cukup bisa memasak walau mungkin terkadang rasanya agak aneh. Tapi kali ini aku percaya diri aja daripada aku pingsan karena kelaparan.
          Kuketuk pintu kamar Danu, dan aku mendapat sahutan dari dalam “ya, masuk”, aku membuka pintu dan masuk mengantar sebuah nampan berisi sepiring nasi, sayur dan daging dengan segelas air. “aku masak tadi tapi ga tau kamu suka apa ga, kalau mau silahkan dimakan, kalau ga mau tinggal dibuang aja, ga pake komentar yah.” Aku buru-buru keluar dari kamarnya sebelum dia nyeletuk yang aneh-aneh.
          Setelah makan aku ke kamar mengerjakan beberapa tugas kuliahku, dan aku pusing dengan semua kalimat bahasa Inggris yang aku baca, aku harus membolak-balik kamus, dan sebenarnya aku bisa sangat lama mengerjakan tugasku karena aku harus mengartikannya terlebih dahulu dengan kamus. Hanya tugas berisi 20 soal, yang seharusnya bisa aku selesaikan dalam waktu satu jam, berubah menjadi tugas yang aku selesaikan selama 2 jam lebih, dan sudah jam 6 lewat, aku rapihkan semua buku-buku di ranjangku, dan aku bergegas menuju kamar mandi, dan benar saja, aku keduluan sama Danu, dia ada di kamar mandi, dan aku harus menunggu sampai dia selesai, aku duduk di sofa, dan menonton TV.
          “Kamu ga mau makan malam?” Tanya Danu kepadaku setelah aku membukakan pintu kamarku karena dia mengetuknya berkali-kali saat aku menutup telingaku dengan headset yang menyajikan sebuah lagu kesukaanku. “Mau, tapi makan apa?”
          “Dimakan yah, tadi siang aku juga makan masakan kamu, sebenarnya aku mau buang tapikan sayang beli sayur sama dagingnya pakai uang, terima kasih yah.” Aku senang mendengar ucapannya itu walau dia bicara dengan wajah dinginnya tanpa senyum sedikitpun. “Iyah sama-sama, aku juga makasih karena udah kamu masakin makan malam.” Sahutku sembari tersenyum padanya.
          Aku duduk di kursi belajarku yang aku pindahkan menghadap jendela, aku memandang bintang malam itu, humh masakan Danu enak juga, pasti dia bukan baru pertama kalinya masak, aku berdialog dengan diriku sendiri. Entah kenapa sekarang ini aku merasa lebih tenang dibanding saat-saat awal aku melihat dia bicara dengan ekspresi dinginnya itu, dan akhir-akhir ini dia sudah agak jarang marah atau berteriak kepadaku. Dia lebih sering bicara datar dengan ekspresi dingin.
          Tidak terasa ini sudah seminggu sejak kepergian om dan tante, aku masih pergi dan pulang kuliah bersama Danu, aku dan dia juga bergantian masak, aku menyiapkan sarapan terkadang dia, tergantung siapa yang bangun lebih awal, aku yang menyiapkan makan siang dan dia menyiapkan makan malam. Aku meminta dia yang menyiapkan makan malam, karena menurutku masakan nya lebih enak daripada aku, dan aku akan tidur lebih nyenyak setelah menikmati makan malam yang enak. J
          Kegelisahanku berakhir sudah, ketakutanku saat om dan tante akan pergi sudah terjawab, ternyata walaupun dingin, Danu adalah sosok cowo yang bertanggung jawab, dan memegang kata-katanya. Aku sempat tidak sengaja mendengar pembicaraan Danu dengan tante Yuri di teras depan, “mama akan pergi sekitar tiga bulan, memang kamu baru kenal Tiara, tapi mama dan papa yakin dia gadis yang cukup baik, mama dan papa kenal baik dengan orang tua Tiara, kami yang menyetujui Tiara tinggal disini, mama kesepian sejak kakak mu menikah dan tinggal bersama suaminya. Tiara gadis yang mandiri di Jakarta, ayahnya bercerita Tiara bekerja sambil kuliah, tetapi nilainya kurang baik karena tidak sempat untuk belajar, makanya dia kuliah disini, dan tinggal bersama kita, agar bisa kuliah dengan baik, dan orang tua Tiara percaya pada mama dan papa, sekarang mama titipkan kepercayaan itu ke kamu, jaga dia dengan baik yah.” Sahutan Danu singkat tapi jelas “Iyah, mama ga perlu khawatir, percaya aja sama Danu.”
          Hari ini aku dapat kabar buruk. Ujian seminggu lagi, jadwal sudah keluar dan aku aja masih bingung membaca buku-buku yang semua katanya berbahasa internasional itu, aku buntu berpikir, ga ada teman dekat, ga ada kenalan, ga ada teman yang mau berbagi waktu hanya untuk mengajariku mengartikan kalimat-kalimat itu, mereka semua sudah sibuk sendiri dengan rencana masing-masing menghadapi ujian, yah Singapore adalah negara yang penuh persaingan, ga heran kalau negara ini berkembang pesat dan menjadi negara bisnis, orang-orang disini penuh persaingan. Mereka semua beraktivitas dari pagi sekali sampai larut malam negri ini masih hidup. Aku pernah sekali diajak Danu menemaninya belanja bahan makanan di supermarket yang agak jauh dari rumah, dan yah Singapore memang indah di malam hari.
          Aku turun dari motor dengan lemas dan berjalan masuk ke rumah menuju kamarku, istana tempat aku menumpahkan segala perasaan dengan leluasa tanpa diganggu siapapun, termasuk merenungi gundahku saat ini. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk, aku membuka pintu dan terlihat Danu mengantar makan siang untukku, aku langsung meminta maaf karena melupakan tugasku membuat makan siang. “Its oke, sepertinya kamu kurang sehat, makan dan istirahatlah.” Danu pergi meninggalkanku dengan tanganku memegang semua yang Danu bawakan. Dan benar saja, selesai makan siang, hantu tidur menghantuiku, aku tertidur.
          Aku turun ke meja makan karena Danu mengirimku sebuah pesan singkat, “aku tunggu sampai jam 8, kalau ga turun, aku anggap kamu ga mau makan malam, dan aku akan bereskan semua makanan.” Danu sudah memulai suapan pertamanya ketika aku duduk, aku mengambil sedikit nasi dan lauk yang dimasak oleh Danu, masakannya selalu membuat aku berselera makan, aku nambah, dan terdengar “sepertinya sudah sehat sampai kuat makan dua piring.” Aku cengar-cengir kearah dia, dan melanjutkan  makanku. “Dan, aku boleh minta tolong ga?” ucapku setelah menyelesaikan makan malam ku, “apa” sahutnya penasaran kearahku.
          “Minggu depan aku ujian, kamu tau sendiri aku ga fasih berbahasa Inggris, sebenarnya selama ini aku kesulitan membaca buku-buku kuliah ku yang semuanya berbahasa Inggris, aku ga tau bagaimana harus belajarnya, jangan-jangan nanti aku ga tau arti dari pertanyaan soal-soal ujianku, kan selama ini aku selalu membolak-balik kamus saat mengerjakan tugas.”
, “jadi kamu minta tolong apa?”,
“tolongin aku, ajarin aku belajar yah, kamu kan udah semester lima, pasti pelajaran semester satu sangat mudah bagi kamu, dan yang terpenting ajari aku berbahasa Inggris biar aku bisa baca buku dan baca soal.”
          “Jadi kamu minta diajarin baca?” jawab dia dengan senyumnya yang sangat menyebalkan ke arahku. “whateverlah, pokoknya aku mau bisa baca buku-buku kuliahku dan bisa ngerti soal-soal ujianku.Mau bantu ga?Tinggal jawab aja, ga maksa juga kok.” Sahutku ketus.
          Danu beranjak dari duduknya membereskan beberapa piring, dan meninggalkanku di meja makan tanpa menjawab pertanyaanku sama sekali, bahkan sebuah anggukan kepala pun tidak. Aku putus asa, agak menyesal karena mungkin dia marah atas ucapanku yang ketus. Aku berjalan ke lantai dua dan melihatnya sedang duduk di sofa panjang, dia mengarahkan telunjuk nya kearahku dan menggerakkannya seola-olah memanggilku kearahnya. Aku melangkah mendekatinya, dan aku berdiri agak dekat dengannya. “Boleh aja bantuin kamu, tapi ada syaratnya, kamu yang harus siapin sarapan dan makan siang, makan malam tetap aku, dan kamu harus berangkat kuliah sendiri dan pulang kuliah sendiri, kamu kan sudah lama disini pasti bisa pergi sendiri, kalau kamu terus naik motorku, dan kita saling tunggu bener-bener ga efektif, dan aku akan sulit dapat pacar”. Aku pikir syaratnya sulit, ternyata semudah itu, aku langsung mengangguk setuju. “oke kita mulai besok, dan aku akan ajari kamu setiap malam setelah makan malam, dan hari minggu full bila tidak ada halangan.” Danu mempertegas perjanjian kami.
          Pagi ini aku bangun lebih pagi dari biasanya, aku harus nyiapin sarapan dan mengejar jam keberangkatan bus. Semalam aku sudah bertanya ke beberapa teman untuk informasi angkutan dari rumah ke kampus, dan bus di Singapore punya jadwalnya sendiri, terlambat berarti ditinggal dan harus nunggu bus selanutnya, yang berarti terlambat masuk ke kelas! Sarapan sudah siap di kamar Danu saat dia mandi, dan aku langsung berjalan kearah halte bus disekitar rumahku, aku berjalan kaki sekitar 10 menit untuk mencapai halte, ternyata syaratnya ga semudah yang aku bayangkan, lumayan juga harus berjalan kaki dan mengejar jam keberangkatan bus.
          Aku sampai dirumah terlebih dahulu, dan aku mulai menyiapkan makan siang. Aku makan siang sendiri hari ini karena Danu masih belum sampai dirumah. Aku mengisi kesendirianku dengan mengerjakan beberapa tugas agar nanti tidak mengganggu waktu belajarku. Aku sempat melirik jam dinding di kamarku, sudah jam 2 siang lewat 20 menit, dan Danu masih belum sampai. Aku menjadi agak khawatir, ga seperti biasanya dia pulang sangat terlambat, mungkin karena biasanya dia harus langsung mengantar aku pulang ke rumah. Aku mengiriminya sebuah pesan singkat “hari ini aku sudah buatkan makan siang, kamu dimana?apa tidak mau makan siang dirumah?”
          Terdengar suara motor di depan rumah, suara yang sangat aku kenal, aku langsung turun ke lantai bawah, dan terlihat Danu sedang membawa beberapa kantong plastik besar, dari warna-warnanya aku tahu dia baru saja berbelanja di supermarket, kantong belanjanya berisi sayur-sayuran, daging, beberapa buah, beberapa kaleng susu, roti dan selai, wuah dia baru saja belanja besar. Seorang pria muda dengan motor sporty belanja sebanyak itu mengalahkan belanjanya ibu-ibu. Tapi dia ga malu, aku salut.
          “Ini persediaan untuk beberapa hari kedepan, mana makan siangnya, aku lapar nih.” , aku langsung menyiapkan makan untuknya, terlihat dia agak lelah. Aku duduk menemaninya makan, dia makan dengan lahap dan itu membuatku tersenyum senang. Padahal dia bisa saja makan di kafe, tapi dia tetap pulang dan memakan masakanku,haha mungkin aku terlalu GR. Dia bangkit berdiri, dan aku menghalanginya mencuci piring, “sini aku aja yang cuci, kamu istirahat aja, kelihatannya lelah.”
Tanpa berkata apapun, Danu melangkahkan kakinya menuju tangga, aku mendengar suara langkahnya di tangga. Aku meneruskan mencuci piring, dan merapihkan beberapa peralatan masak yang tadi aku gunakan. Aku sempatkan diriku mengecek pintu dan jendela, setelah itu aku naik ke lantai dua menuju kamarku, aku melihat Danu sedang duduk di sofa panjang memegang sebuah buku ditangannya. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya, aku mencuri lihat buku yang sedang ia baca, jujur aku sangat suka membaca, tapi buku bacaan yang bahasanya aku mengerti.
“Hari ini kita belajar lagi yah, dikamar kamu aja, kamarku agak berantakan tadi belum sempat aku rapihkan.” Danu memulai pembicaraan denganku.
 “Oke, setelah kamu selesai membaca buku itu?” tanyaku kepadanya sambil menunjuk buku yang sedang dibacanya.
“kamu bersedia nunggu sampai aku selesai membaca buku ini? Yah, 217 halaman, dan aku baru sampai di halaman 53”, jawabnya sambil tetap membaca buku itu. Tiba-tiba Danu menutup bukunya, dan berjalan masuk ke kamarku. “ayo, nunggu apa lagi, aku ga punya banyak waktu untuk ngajarin kamu, jadi lebih cepat dimulai akan lebih baik.” Danu melanjutkan ucapannya. Aku bergegas mengikuti langkahnya ke dalam kamar.
Tidak terasa ini hari terakhirku ujian, dan tadi malam Danu sudah mengajukan surat berhenti mengajariku, haha…baru kali ini aku melihat sikap Danu yang punya selera humor. Aku berjalan dengan riang menyusuri halaman depan kampusku, aku merasa lega karena aku merasa cukup yakin dalam mengerjakan soal-soal ujianku, aku melangkah menuju halte bus terdekat dari kampusku. Aku berpikir sebaiknya aku membeli sesuatu untuk Danu, sebagai bentuk ucapan terima kasih. Tapi aku ingin membeli apa untuknya, dan aku sadar ternyata selama ini aku tidak tahu apa yang disukai Danu, kecuali membaca buku dan bermain laptop. Yah, itu dia, buku, aku segera turun dari bus di halte selanjutnya, dan aku menyetop sebuah taxi yang 10 menit kemudian telah mengantarkanku ke sebuah mall. Aku turun dan bergegas mencari toko buku di mall tersebut. Tanganku mengambil sebuah buku yang aku harap Danu akan suka, aku membayar, dan naik taxi pulang ke rumah.
          Ketika aku masuk kedalam rumah, aku agak penasaran karena ada dua pasang sepatu di luar, sepasang adalah milik Danu, tetapi sepasang lagi baru kali ini aku melihatnya. Aku masuk dan ketika melewati dapur, aku melihat seorang wanita duduk di meja maka menemani Danu yang, mereka sedang makan siang bersama. Aku agak canggung menemui mereka, tetapi wanita itu terlanjur melihatku, Danu menoleh kearahku dan memanggilku. “Tiara, kenalkan ini Lidya.” Aku menjabat tangan Lidya, dan tersenyum padanya. Aku meminta izin kepada mereka untuk naik ke kamarku, dan aku duduk diatas ranjangku menatapi buku yang aku hadiahkan pada Danu. Entah perasaan apa ini, mana mungkin aku cemburu, yah aku memang menyukai Danu secara fisik, tetapi ga berarti aku mencintainya apalagi ingin menjadi miliknya. Aku berkutat perasaan aneh yang terus mengisi hatiku

Singalove Bag 2




Oh my God, ga kebayang harus bahasa Inggriskah disini????bisa jadi alim mendadak karena kehabisan kosakata nih. “Danu, bisakah kamu berbahasa Indonesia?”tanyaku, dan Danu dengan cepatnya menjawab “bisa”. “hufh, lega, jujur aku ga fasih bahkan ga mampu sebenarnya berbahasa Inggris”. Aku lega paling ga aku aman ada seorang penerjemah untukku. Danu hanya tersenyum dan kembali duduk. “Sudah makan?” Danu lalu memanggil seorang pramuniaga, dan memberikanku daftar menu di kafe itu, jujur aku sangat lapar, tapi, aku kembali bermasalah dengan daftar menu itu, aku ga ngerti menu apa aja itu. “Dan, aku mau nasi, yang mana yah menu nya?”. “Nasi goreng aja?” aku langsung mengangguk dengan tawaran Danu.
          Sepiring nasi goreng dan sebotol air mineral, cukup untuk membuat ku sanggup berjalan lagi ke airport untuk mengambil koper-koperku. “Kamu benar-benar niat yah tinggal disini” celetuk Danu begitu melihat tiga koper besar yang diatas namakan Tiara. Aku nyengir sejadinya, nahan malu sekaligus kesal dengan ekspresi Danu kepadaku.
          Danu cowo agak jutek menurutku, ga banyak bicara hanya seperlunya aja, ga basa-basi, dan kadang bicara nya ketus dengan ekspresi wajah dingin. Aku nyengir dan senyum sendirian karena ga pernah dapet balesan senyum dari dia. Dia memanggil seorang jasa pembawa barang, dan menaikkan ketiga koper itu ke sebuah troli, Danu berjalan cukup cepat, mengarahkan aku dan pembawa barang itu ke sebuah mobil yang berada di parkiran dekat kafe Sira.
          Selama menyetir, Danu tidak banyak bicara, ia sangat fokus dengan jalan dan aku pun ga mau seperti orang bodoh yang bicara sendiri, aku ikut diam. Agak risih rasanya semobil dengan orang yang ga pernah aku kenal sebelumnya, dengan situasi dingin tanpa obrolan. Sesekali aku melirik Danu, huh walau dia dingin dan jutek, tapi dia ganteng dan atletis. Aku suka dia secara fisik, tapi ga secara pribadinya.
          Tiba-tiba Danu mengerem mobilnya sampai berhenti di sebuah rumah bertingkat dua yang kelihatan agak asri dari depan. Beberapa pepohonan rindang dan pot-pot berisi tanaman bunga terpajang rapi di halaman depan. Danu membuka pintu mobilnya “ kita sudah sampai”. Aku mengikuti Danu turun dari mobil dan membantunya membawa salah satu koper milikku, berarti Danu harus membawa sisanya. Dia membawa dua koper dengan agak kesulitan dan aku tersenyum geli melihat wajah kesalnya dengan koper di masing-masing tangannya. Sesampainya di tangga, Danu menghentikan langkahku “kamar kamu di lantai dua, koper-koper ini kamu cicil aja naik sampai ke lantai dua”. What!!please cowo mana yang setega itu sama cewe, disuruh bawa tiga koper naik tangga!
          Mau protes rasanya, tapi dia keburu pergi ke luar untuk masukin mobilnya ke garasi rumah. Huh, ga ada pilihan, aku bawa satu koper ke atas, dan aku ngos-ngosan, langsung duduk dilantai ngejulurin dua kaki, aku jadi penasaran koper ini diisi apa sama mama sampe seberat ini. Aku turun lagi kebawah, dan naikkin satu koper lagi ngelewatin tangga-tangga, kali ini lebih lambat karena aku sudah kecapean, dan tangan rasanya pegal banget.
          Akhirnya aku sampai di anak tangga terakhir dan koper kedua ku berhasil mendarat dengan selamat di lantai dua, aku duduk lagi ngejulurin kaki, dan tiba-tiba langkah kaki terdengar ditangga, Danu membawa koper terakhirku naik ke atas. “Sebaiknya kamu betah disini, berat juga bawaan kamu, ga kebayang nuruninnya secape apa nanti”. Masih dengan ekspresi khas nya Danu nyeletuk seenak nya aja.
          Danu menunjukkan jari nya ke sebuah pintu “itu kamar kamu, dulu itu kamar Dina”, dan dia membuka pintu yang persis berseberangan dengan pintu kamar ku. Aku melihat sekeliling, dan agak sederhana desain di lantai dua ini, dua buah pintu kamar yang saling berhadapan, sebuah sofa panjang dengan meja kecil di depannya, dan sebuah TV tidak jauh dari sofa, ada sebuah teras yang menghadap ke jalan, dan sebuah pintu disamping kamarku, ketika aku buka, ternyata sebuah kamar mandi dengan fasilitas lengkap.
          Aku menarik koperku satu persatu kedalam kamar, kamar yang benar-benar lucu dan girly, dengan warna dominan pink, tempat tidur dengan beberapa boneka,sebuah meja belajar, dua buah lemari baju berwarna pink, dan meja rias yang juga pink, cat kamar pink dan beberapa aksen putih. Sebenarnya aku lebih suka warna hijau, tapi pink ga terlalu buruk, pasti tante Yuri yang menyiapkan ini semua pikirku. Aku membongkar koper-koperku, memasukkan baju-baju ke dalam lemari, meletakkan beberapa perlengkapan make-up ku di meja rias, beberapa buku yang memang sengaja aku minta ke mama untuk memasukkannya ke koper aku letakkan di meja belajar, dan kamarku siap digunakan.
          Ternyata cukup lama aku merapikan barang-barangku, aku melihat jam ternyata sudah jam tujuh kurang, dan aku langsung mengambil handuk dan perlengkapan mandi ku menuju kamar mandi, aku membuka pintu kamar mandi, dan “hei, bisa ketuk pintu dulukan sebelum masuk, ga tau sopan santun yah!” Danu marah-marah dengan berteriak kepadaku, dia ternyata sedang mandi, untung dia mandi ditutupi tirai, jadi aku ga melihat apapun. “Yey, yang namanya lagi mandi tuh dikunci pintunya , udah salah, galak lagi!” sahutku ga mau ngalah. Aku mendengus kesal dan masuk kembali ke kamar. Tiba-tiba sebuah suara terdengar “lain kali kalau pintu tertutup harus di ketuk dulu baru masuk”. Danu berbicara kepadaku dari depan pintu kamarku, kali ini suaranya ga sekeras tadi, mungkin tadi dia juga kaget dan lepas kendali bicaranya. Aku keluar kamar dan masuk ke kamar mandi.
          Ternyata Danu orang yang cukup rapih, kamar mandi yang baru ditinggalkannya tidak berantakan dengan sabun atau busa, aku menjadi cukup nyaman walau harus satu kamar mandi dengan orang yang baru aku kenal. Aku merenung agak lama dikamar mandi, aku penasaran dengan sosok om Rudi dan tante Rudi, apa mereka sejutek Danu? Aku Cuma pernah melihat foto mereka bersama mama dan papa. Aku juga merenung, berarti aku akan mewati hari-hari ku bersama cowo yang dingin dan jutek, berhadapan kamar dengannya, memakai kamar mandi yang sama, dan bersama-sama menempati lantai dua dengan nya. Oh my God, please bless me.
          Aku keluar dari kamar mandi dan masuk kembali ke kamarku, aku mendengarkan musik dari laptop yang aku bawa, aku berchating ria dengan sahabatku di Jakarta, dan aku menceritakan Danu si cowo jutek dan dingin, sampai suara ketukan terdengar dari pintu kamarku, “Tiara, ini tante Yuri, kamu di kamar? Mari makan malam bersama”. Aku berjalan cepat menuju pintu, membukanya, dan menyapa tante Yuri sambil tersenyum, “iyah tante.” Sahutku. Kami berjalan berdua menuruni tangga menuju meja makan di lantai bawah, disana ada om Rudi dan Danu yang sudah duduk dan siap makan, om Rudi tersenyum padaku,dan memanggil namaku, aku membalas senyumnya, dan mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah mengizinkan ku tinggal bersama mereka. Aku juga berterima kasih kepada tante Yuri atas kamar yang telah disiapkannya untukku. “ga semuanya tante yang siapkan kok Tiara, Danu juga yang bantu,tante cuma bersih-bersihin aja, semenjak ditinggal Dina kamar ny belum pernah ditata ulang.” tante tersenyum melirik Danu, dan aku juga tersenyum pada Danu, tapi tetap aja senyum sendiri deh, Danu diam ga bereaksi sedikitpun.
          Selesai makan, Danu langsung naik ke lantai dua, dan aku tetap di lantai bawah menonton TV bersama tante Yuri, “Danu memang begitu Tiara, agak dingin, tapi dia baik, Tiara tenang aja yah tidur di lantai dua bersama Danu, kalau dia berani aneh-aneh Tiara bilang yah ke tante, Danu itu jarang bergaul apalagi sama perempuan, tante aja ga pernah ngeliat dia jalan sama perempuan apalagi ngenalin perempuan ke tante, tante agak takut juga sebenarnya Danu itu harusnya sudah mulai suka sama perempuan.” Cerita tante kepadaku sambil cengar-cengir. “Tiara ga fasih berbahasa Inggris yah? Nanti juga akan terbiasa dan bisa, Danu bisa kok ngajarin Tiara kalau Tiara butuh bantuan dia. Tiara satu tempat kuliah sama Danu, tapi Danu udah semester lima. Jadi Tiara bisa berangkat bareng sama Danu ke kampus, kan Tiara belum terlalu kenal daerah-daerah disini.”Tante kembali bercerita panjang lebar padaku, aku senang ternyata tante Yuri cukup baik dan sangat pengertian, seperti ibuku sendiri. Aku memang seumuran dengan Danu, tapi karena aku telat kuliahnya, yah jelas Danu udah lima semester diatas aku. Aku beranjak dari duduk bersama tante setelah tante menguap dan ingin tidur, aku juga sudah merasa ngantuk, aku berjalan menaiki tangga ke lantai dua, membuka pintu kamar dan tidur di atas ranjang baruku.
          Humh, rumah baru, suasana baru, lingkungan baru, hidup baru. Aku berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintu beberapa kali, tidak ada jawaban, dan Danu berjalan keluar dari kamarnya, aku protes “lha kalau aku disuruh ketuk-ketuk pintu kamar mandi tapi kamu nya ga ada didalam sama aja aku buang tenaga, lain kali kunci aja pintu kamar mandinya, dan aku ga perlu ketuk-ketuk ga jelas seperti ini kan.kecuali masuk ke kamar kamu, tapi aku pasti mikir berkali-kali dulu untuk masuk ke sarang harimau yang galaknya amat sangat!” ekspresi ku pati seperti orang yang sebel, dan aku langsung masuk ke kamar mandi sebelum Danu nyeletuk aneh-aneh dan bikin mood ku makin buruk.
          Belum waktunya untuk masuk kuliah, aku punya waktu beberapa hari sampai memulai kuliahku. Aku mengisi waktuku dengan membuka—buka internet berkaitan dengan universitas ku, daerah tempat tinggalku saat ini, dan tempat wisata yang dapat aku kunjungi lengkap dengan alat transportasinya. Terkadang disore hari aku akan berjalan keluar rumah dan berkeliling kompleks, melihat-lihat daerah sekitar dan kegiatan para tetangga pada sore hari. Aku bukan wanita yang suka belanja atau menghabiskan waktu di kafe, aku lebih nyaman dirumah atau beraktivitas yang bermanfaat dan ga menghambur-hamburkan uang.
          Hari pertama aku kuliah, aku bangun terlalu pagi karena ga bisa tidur, aku gugup dan penasaran dengan lingkungan kuliahku, aku akan berangkat bersama Danu, karena aku ga bisa berangkat sendirian, setelah sarapan bersama, om Rudi dan tante Yuri tersenyum padaku, dan mengingatkan Danu untuk mengantarku dan menunggu kuliahku untuk pulang bersama. Danu tanpa menjawab apapun melangkah ke lantai dua, mengambil tasnya, dan menuju garasi. “ayo cepat kalau ga mau di tinggal!” teriak Danu ketika ia mengambil kunci dari sebuah meja kecil, aku bergegas mengikutinya, dan berpamitan pada om dan tante.
          Ternyata Danu mengeluarkan sebuah motor ninja berwarna hitam dari garasi,memberiku sebuah helm dan menyuruhku naik ke motor. Aku beberapa kali melihat Danu memakai motor ini untuk berpergian entah kemana, dan pulang sebelum orang tuanya sampai di rumah. Bila sudah begitu aku akan dirumah dan ga kemana-mana karena aku takut meninggalkan rumah orang lain dalam kondisi kosong.
          Hari pertama yang cukup baik, aku masuk ke dalam kelas yang berisi sekitar 35 mahasiswa dari berbagai negara, tapi tetap berbahasa Inggris dan aku jadi lebih banyak diam. Danu mengirim sms kepadaku dan mengatakan dia menungguku di parkiran motor, aku langsung menuju parkiran setelah kelasku selesai, dan kami pulang bersama.
          Kami semua makan malam bersama seperti biasanya, tapi kali ini ada yang berbeda dengan perasaanku setelah tante menyampaikan bahwa tante dan om ada pekerjaan yang harus meninggalkan rumah selama tiga bulan kurang lebih, aku melirik Danu tapi dia tetap tenang tanpa ekspresi, dan hanya mengatakan agar orang tuanya berhati-hati. “mama titip Tiara yah Danu, mama percaya sama kamu” hanya kalimat singkat itu yang diucapkan tante kepada anaknya yang galak, dingin, dan jutek itu. Jelas aja perasaan ku ga tenang, aku akan tinggal hanya berdua bersama cowo yang belum lama aku kenal, dengan karakternya yang galak, dingin, dan jutek. Aku makan apa kalau ga ada tante dan om, kalau tiba-tiba dia ninggalin aku di kampus, aku minta tolong sama siapa, kalau dia pergi keluar dan ga pulang ngebiarin aku dirumah sendirian sampai malam, aku harus bagaimana. Semua perasaan dan pikiran negative itu jadi satu dibenakku. “tante kapan berangkat?” tanyaku pada tante. “besok, tapi tante sudah titipkan urusan kebersihan rumah pada seorang ibu yang akan datang setiap pagi dan dia akan pulang begitu tugasnya selesai, Danu sudah terbiasa dengan hal ini, Tiara tenang saja yah. Semua sudah diatur dan mudah-mudahan Tiara nyaman disini.” Jawaban tante agak menenangkanku sedikit.

Singalove Bag 1



Hari ini adalah jadwal penerbanganku ke Singapore, aku harus bangun pagi karena ayah membelikanku tiket pesawat dengan jam penerbangan 06.45. Tok…tok..took…. terdengar suara pintu kamar ku diketuk, aku tau itu pasti ibu, benar saja, suara ibu langsung mengikuti irama ketukan pintunya. Tiara!bangun, sudah jam setengah 5, kamu ingatkan hari ini kamu harus berangkat ke Singapore!
Aku berjalan gontai membuka pintu kamarku, dan tersenyum pada ibuku, “iyah mah, jam 06.45 kan?jadwal yang sengaja papa beli agar aku pergi secepat mungkin dari rumah ini?!
“Hush, kamu bicara apa, jadwal itu papa sengaja beli agar kamu tiba disana tidak terlalu sore, Danu harus mengurus kuliah dan takut tidak sempat menjemput kamu kalau terlalu sore atau malam.Sudah mandi sana, papa nunggu kamu dibawah, papa dan mama akan mengantar kamu.”
Yah, sebenarnya aku bukan anak yang baru lulus SMA kemarin, aku sudah lulus 2 tahun lalu, aku sempat bekerja dan kuliah, tapi mungkin tidak seserius yang papa harapkan. Aku tidak terlalu dekat dengan papa, karena ia sibuk bekerja. Mama yang selalu berada dirumah, atau terkadang mama pergi belanja atau ke salon, yah rutinitas ibu-ibu. Aku sendiri sejak bekerja, jarang sekali dirumah, apalagi ketika aku memutuskan kuliah dan bekerja, aku hanya ada dirumah malam hari, itupun aku langsung ke kamar, mandi, dan tidur. Aku jadi semakin jarang bertemu mama dan papa.
Aku bukan anak tunggal, tetapi memang dirumah kami dibiasakan untuk mandiri, ketiga kakak ku sudah bekerja dan mandiri, dua diantaranya sudah menikah. Tinggal aku dan adikku, aku jadi terbiasa juga untuk mandiri, sejak lulus SMA, aku memang berniat bekerja dan menikmati uangku sendiri, aku malu bila masih harus meminta uang jajan.
Mama mendukung niatku ini, tetapi papa sebenarnya ingin aku serius kuliah, yah mungkin karena papa sayang sama aku dan aku adalah anak perempuan, jadi papa tidak mau melihat aku sekeras ini, bahkan ketika aku bilang aku akan kuliah tapi tetap bekerja, papa sempat menentang dan menyuruhku konsen kuliah saja.
Aku tetap menjalani apa yang aku mau, aku bekerja dan pulang bekerja aku kuliah, tapi memang benar yah segala sesuatu butuh restu orang tua, nilai kuliahku berantakan. Bagaimana ga berantakan, waktu untuk belajar sangat sedikit, dan aku bukan tipe orang yang kuat bergadang, kepalaku bisa sakit bila aku kurang tidur.
Aku berjalan menuruni tangga, kamarku ada di lantai dua, dan mama sudah sangat siap mengantar aku, dengan tiga koper besar yang disiapkan mama,-aku harap mama tidak memasukkan kompor dan segala perlengkapan masaknya sampai harus dengan 3 koper-, mama memasukkan semua barang-barang ku kedalamnya, mama memang ibu yang baik, dia selalu lebih tau apa yang aku butuhkan.
          Ini adalah keputusan papa, saat papa menentang keinginan ku, papa memberi aku syarat, bila aku gagal kuliah sambil bekerja, aku harus menuruti rencana papa, mengirimku kuliah ke Singapore, rencana itu bukan rencana dadakan, papa sudah lama merencanakan itu. Mama sering bercerita ketika aku masih SMA, mama dan papa memiliki sahabat yang tinggal di Singapore, bila papa sedang bekerja disana, papa dan mama pasti mengginap di rumah sahabat mereka itu. Papa sebenarnya sudah meminta izin kepada  sahabatnya itu, bila nanti aku sudah lulus SMA, papa akan menitipkan aku tinggal disana dan kuliah disana. Dan keinginan itu disambut baik oleh sahabat papa, om Rudi dan tante Yuri. Mereka sangat antusias dengan rencana papa, wajar saja karena dari cerita mama, aku tahu mereka hanya tinggal dengan satu anak laki-laki mereka, dan itu membuat tante Yuri merasa kesepian karena ga ada perempuan yang menemaninya dirumah. Sebenarnya mereka punya anak perempuan, tapi sudah menikah dan tinggal dengan suami nya.
          Dua tahun lalu aku menolak tawaran papa mengirim aku kuliah di Singapore, karena aku merasa risih harus numpang tinggal bersama orang lain, dan aku ga punya teman disana. Aku juga takut kalau-kalau anak tante Yuri itu orang nya ga baik alias nyebelin.
          “Kamu hati-hati yah, mama sudah siapin semuanya di dalam koper, tante Yuri juga sudah nyiapin semuanya untuk kamu disana, urusan kuliah sudah papa selesaikan, kamu tinggal kuliah yang serius aja, dan jaga sikap yang baik yah ke om Rudi dan tante Yuri, kalau butuh apa-apa telepon mama aja, nanti Danu yang akan jemput kamu, dia akan nunggu kamu di kafe Sira.” Mama berpesan banyak padaku sambil memeluk ku, adikku juga ada, dan dia hanya mencium kedua pipiku, seperti yang biasa dia lakukan kalau aku pergi. “kamu kuliah yang benar, jaga sikap, dan jangan merepotkan orang disana” tambahan dari papa untukku. Dan aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan kepala.
          Langkahku agak cepat menuju pintu terakhir yang harus aku lewati untuk dapat naik pesawat. Mama sudah mengurus pengiriman semua koper ku, jadi aku tidak terlalu repot dengan semua bawaan itu, mama seperti memindahkan kamarku, kecuali dindingnya.
          Perjalanan Indonesia-Singapore tidak terlalu lama, sebelum jam makan siang aku telah sampai, dan langkahku cepat menuju kafe Sira yang dipesankan oleh mama. Seorang pramuniaga dengan sigap menyapaku, dan bertanya “have an appointment?”, “yes, my name is Tiara,can I meet my family, Danu?”jawabku terbata-bata. What!family????oh no, bahasa Inggris adalah pelajaran yang membuat nilai rapotku jadi agak buruk, aku bingung harus bilang apa, kosakata di otakku benar-benar terbatas.
          Aku dituntun masuk ke dalam kafe dan pramuniaga itu membawaku ke meja no.39, duduk seorang pria disana dengan secangkir kopi susu di meja,sedang asik bermain dengan sebuah laptop putih yang membuatnya tidak menyadari kedatanganku. “Good afternoon sir, your special guest”. “oh, thanks”. Danu menjawab pramuniaga itu sembari berdiri dari duduknya, setelah pramuniaga itu pergi Danu mengulurkan tangannya kepadaku, dan berucap “ Hai Tiara, I’m Danu, have a nice trip?”
 

De_windows © 2008. Template Design By: SkinCorner