Sabtu, 11 Mei 2013

Ola..la part9



Meet You Again

          Aku semakin sering berhadapan dengan laptopku, ini sudah masuk bulan ke tiga, dan bulan ini adalah akhir masa percobaanku. Keputusan aku akan terus bekerja di sini atau tidak, akan segera aku terima. Saat ini aku sedang melakukan seleksi cerita yang akan aku masukkan ke kolom cerita pembaca. Bulan kedua kerjaku, Ellen sudah meyakinkan bahwa aku sudah sanggup melakukan pekerjaan ku sendiri, hanya terkadang aku masih meminta pendapat Ellen tentang cerita yang aku pilih dan akan aku serahkan ke k’Danita.
         
Pada awal-awalnya aku harus mengedit sebuah cerita sampai beberapa kali sampai akhirnya disetujui. Tetapi sudah sejak 2 minggu ini, aku hanya mengedit sekali dan sekali untuk koreksi. Aku seperti menemukan kenikmatan pekerjaan ini, walau kadang aku masih harus berduaan dengan laptopku sampai subuh. Ellen selalu meyakinkan, aku akan terbiasa dan akan bisa bekerja lebih cepat, Ellen sudah hampir 7 tahun di perusahaan ini, dan dia bilang tahun pertamanya selalu membuatnya bergadang, tetapi setelah terbiasa dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum makan malam.

We are never ever getting back…

“Hallo.”

“Hallo Ola, hari ini kamu ke kantor kan?”

“Iyah k’, ini masih di kampus, tapi sebentar lagi Ola mau ke kantor, tulisan untuk minggu ini udah siap, tinggal k’Nita cek aja.”

“Yaudah k’ Nita tunggu di kantor yah.”

            Aku segera membereskan beberapa buku dan laptopku, baru saja mau keluar dari perpustakaan, ada Dony dan Tasya di dekat pintu perpustakaan.

“Ola, hei, susah banget mau ketemu aja. Kebetulan nih, weekend ini mau ikut ke Bandung gak?”

“Ngapain Don?”

“Refreshing aja, bisa gak?”

“Duh, sorry Don, kayanya absen dulu deh, kerjaan masih banyak. Lagian Sabtu banyak kelas.”

            Dony menepuk pundakku, “Iyah ngerti, tapi kamu juga butuh istirahat. Kalau nanti ngerasa butuh udara segar, kasih tau aku.Ok?”
Aku mengangguk kearah Dony dan tersenyum pada Tasya. “Iyah Ola, kalau butuh liburan bilang aja ke aku dan Dony, pasti kita temenin. Udah lama gak hangout bareng kamu.”
“Pasti Tasya, memang aku bisa cari siapa lagi buat nemenin. Makasih yah selama ini udah ngasih update’an tugas-tugas. Tapi aku harus pulang duluan nih, ditungguin di kantor.”
Aku memeluk Tasya, dan melambai ke arah Dony.

          Setengah jam kemudian aku sudah tiba di kantor, jalanan di Jakarta jam segini agak sepi, jadi gak perlu hadir dalam vestifal macet Jakarta yang selalu hadir setiap pagi dan sore. Aku langsung menuju meja kerja ku, menyalakan laptop dan monitor, ada beberapa file yang harus aku transfer.

“Ola, kamu udah terima surat keputusan nya belum?”

“Belum Ellen, tapi seharusnya hari ini. Semoga aja yah diterima jadi karyawan.”

“Aku dukung banget, tulisan hasil editan kamu selama ini cukup memuaskan, untuk yang baru 3 bulan sih termasuk bagus.”

“Makasih, ini juga kan karena kamu yang mentorin aku dan ngasih banyak saran.” Aku mengedipkan sebelah mataku ke arah Ellen.

          Aku terus menyelesaikan tulisanku, untuk edisi berikutnya. Ruang kantor sudah agak sepi, Ellen sudah pulang dari satu jam yang lalu, aku memang akan lembur karena aku datang siang tadi. Hanya ada beberapa staff yang sedang mengetik, dan beberapa yang sedang menikmati kopi karena diluar sedang hujan.

          Kring…kring..

“Hallo.”

“Halo Ola, kamu belum pulangkan?”
“Belum k”

“Ke ruangan saya sekarang.”

“Baik.”
         
          Aku menutup telepon dan berjalan ke arah ruangan k’Danita.
“masuk Ola.”

“Iyah k, ini Ola sekalian mau kasih tulisan edisi minggu ini.”

“Ola, terima kasih untuk hasil kerja kamu selama ini, semua nya cukup bagus, walau kamu masih harus belajar banyak. K’Nita sudah bicara ke pak’direktur dan kamu sudah ditetapkan akan menjadi karyawan disini. Ini surat pengangkatannya.”

Aku tersenyum dan mengambil sebuah amplop putih yang diserahkan k’Nita, k’Nita menyalamiku dan mengucapkan selamat, aku hanya bisa mengatakan terima kasih untuk memberitahu betapa aku sangat senang dan berterima kasih pada k’Nita yang sudah sangat baik menjadi atasanku.

Aku kembali ke meja kerjaku, aku ingin sekali menelepon Dony dan berteriak dengan keras, aku jadi karyawan Dan’s Adv. Ketika aku merogoh tas dan mendapatkan handphoneku, ternyata hp ku mati. Aku lupa sekali mengecek hp ku tadi. Sekarang sudah hampir jam 9 malam, dan aku harus bergegas pulang. Kulihat dari jendela, di luar masih gerimis.

Aku berjalan keluar gedung, rintik-rintik gerimis membasahi rambutku, aku lupa membawa payung. Aku berdiri di trotoar tempat biasa aku menunggu angkutan umum. Beberapa motor lewat dekat trotoar menyebabkan beberapa cipratan air kearah celana  panjangku. Tidak lama kemudia, sebuah motor merah melaju melewati sebuah genangan air yang tidak terlalu jauh dariku, membuat air itu mengenai bagian kemejaku, aku spontan berteriak ke arah motor itu yang sesaat melaju di depanku. Ku pandangi motor itu yang makin lama semakin melambat. Dia menoleh ke arah ku dan membuka kaca helm nya.
“Tunggu di situ.”

          Aku bingung mendengar perkataannya. Apa ini, sekarang dia yang mau ke sini, memangnya aku salah karena berteriak? Jelas-jelas dia yang salah naik motor ngebut di genangan air. Aku marah tapi juga takut, bagaimana kalau dia lebih galak? Bagaimana kalau dia marah? Sibuk dengan pikiranku sendiri, tanpa sadar motor itu sudah ada di depanku.

“Maaf, kalau anda marah karena saya berteriak, tetapi anda duluan yang…”
Dia membuka helmnya, dan….. aku rasa aku kenal siapa orang ini.

“Hai, gak nyangka bisa ketemu disini.”
Daniel, benar Daniel. Wajahnya sama persis, hanya rambut nya saja lebih pendek.
Aku tersenyum jengkel. “Gak nyangka juga, lihat nih gara-gara kamu baju aku basah.” Aku menunjuk ke arah kemejaku yang basah.

“Yah, gak sengaja, lagian ngapaian kamu malam-malam disini??”

“Menurut kamu? Pulang kerja lah.”

“Oh, sudah dapat kerja?? Berarti sudah bisa bayar hutang yah? Kamu pulang kerja jam segini? Kerja apa dimana?”

“Ih, mau tau aja. Nanti aku bayar hutang nya, berapa no rekening kamu? Cepetan sebelum angkutan umum nya datang nih.”

“Ya ampun, kamu disini mau naik angkutan umum? Malam-malam begini sendirian? Gak pernah liat berita yah? Bahaya tau.”

“Taulah, aku kan kerja di bidang jurnalistik, pasti aku update berita. Tapi kamu pikir aku mau naik apa lagi? Naik taksi? Bisa-bisa gaji aku sebulan habis cuma buat bayar argo taksi.” Aku memutar bola mataku dan kembali menoleh ke arah jalan, mencari angkutan umum yang mungkin akan lewat.

“Naik motor aku aja, bahaya pulang malam gini naik angkutan umum.”
Daniel menepuk-nepuk jok motornya mempersilahkan aku naik. Aku tergoda untuk naik, lumayan naik motor daripada nunggu angkutan umum yang dari tadi gak kelihatan.

“Tapi kamu gak lebih bahaya dari angkutan umum kan?”

“Eh, aku pernah ngantar kamu sampai rumah, dan selamatkan?”

“Tapi itu naik mobil, dan bukan kamu yang nyetir.”

“Yaudah kalau lebih percaya sama angkutan umum. Jangan menyesal yah.”
Daniel mulai menstarter motornya dan memakai helm nya.

“Eh, eh, tunggu. Aku kan gak bilang gak mau ikut, cuma nanya sih kamu sama angkutan umum lebih bahaya mana?”
“Itu bukan nanya, bikin sakit hati tau.”

“Ih, masih punya hati yah.”

“Cepet naik, atau aku tinggal nih.”

“Iyah, iyah, sabar.”

Aku mulai berjalan dan naik ke motor Daniel. Tiba-tiba saja Daniel memegang tanganku, aku hendak melepaskan tanganku dari pegangannya.

“Pegangan di pinggangku, atau kamu bisa jatuh, gak boleh banyak protes.”

“Iyah, iyah, aku bisa sendiri, gak perlu di pegangin.”

          Aku memegang jaket Daniel di sisi kanan dan kiri pinggang nya. Lalu Daniel mulai melaju, awalnya aku merasa baik-baik saja, kecuali udara yang benar-benar membuat aku menggigil. Lama-lama tanganku gemetar, dan sepertinya Daniel merasakan tangan gemetarku. Dia mulai melaju melambat dan akhirnya berhenti. Aku menggigit bibir bawahku dan tidak sanggup berkata-kata.

“Kenapa gak bilang kalau kedinginan?”
Daniel membuka jaketnya dan menyerahkannya kepadaku.

“Pakai jaket aku aja. Cepat. Aku gak mau kamu pingsan di motor aku terus di lihat polisi, nanti dikiranya aku ngapain kamu.”

          Aku tidak menjawab apapun, menggigil membuat lidahku keluh. Aku memakai jaket Daniel. Daniel memperhatikanku memakai jaket nya, setelah yakin aku lebih baik, Daniel mulai menyalakan mesin motor nya. Aku merasakan lagi tangan Daniel mengarahkan tanganku ke pinggang nya. Awalnya aku memegang baju nya, tetapi ketika Daniel melaju, dia melaju dengan sangat cepat. Membuatku terkejut dan reflek memeluknya.

“Susah banget dibilanginnya.”
Aku hanya diam mendengar Daniel bicara setengah kesal. Setelah beberapa menit aku merasa cukup hangat dan bisa untuk bicara.

“Kamu gak kedinginan?”

“Gak, selama pelukannya gak dilepas.”

Aku tersenyum malu menyadari aku begitu erat memeluk Daniel saat menggigil tadi.

“Huh, mau nya, ingat yah ini cuma karena tadi aku menggigil. Jangan mikir yang aneh-aneh.” Aku mulai melepas pelukanku.

          Tidak lama kemudian, Daniel sudah masuk ke dalam komplek rumahku, dan dia berbelok ke arah rumahku, tanpa bertanya kepadaku.

“Masih ingat yah jalannya?”
Daniel hanya mengangguk.

          Sampai di depan rumah, aku turun dari motor, dan melepaskan jaket Daniel. “Terima kasih yah.” Aku menyerahkan jaket ke arah Daniel.

“Sama-sama. Mana handphone kamu?”

“Handphone ku mati. Untuk apa?”

“Aku perlu, yaudah besok tunggu aku di tempat tadi yah jam 8. Dan handphone harus aktif.”

          Sebelum pertanyaan selanjutnya berhasil meluncur dari mulutku, Daniel sudah melajukan motornya. Aku hanya bisa menghela napas. Aku berjalan masuk ke dalam rumah. Sejak kerja di Dan’s aku memegang semua kunci duplikat rumah, karena jam pulangku tidak menentu dan aku tidak tega kalau harus membangunkan mbok.

_________________________###

          Seperti yang direncanakan, aku meninggalkan kantor jam 8 malam kurang 10 menit. Lalu aku berjalan keluar gedung dan berdiri di trotoar tempat kemarin aku bertemu Daniel. Tidak lama kemudian, sebuah motor besar berwarna merah menghampiriku. Daniel menyerahkan sebuah helm kepadaku. Aku sudah memakai jaket karena aku tidak mau menggigil lagi.

“Kamu belum makan kan?”
Aku menggeleng.

“Yaudah, cepet naik, kita makan dulu yah, baru aku antar kamu pulang.”
Aku mengangguk.

“Kenapa hari ini pakai jaket?”

“Yah, karena gak mau menggigil lagi.”

“Aku suka kalau kamu menggigil.”

“Kamu bukan suka aku menggigilnya, tapi kelakuan saat aku menggigilkan?”
Aku menyubit paha Daniel. Membuatnya meringis kesakitan.

          Daniel mengarahkan motor nya ke sebuah resto sederhana, tetapi sepertinya cukup ramai. Aku baru pertama ke resto ini, sebenarnya aku jarang sekali makan diluar. Mbok selalu menyiapkan makanan di rumah.

“Yuk turun.”

“Kamu sering kesini? Sepertinya ramai.”

“Kadang-kadang, iyah makanan nya lumayan dan harga nya terjangkau. Jadi lumayan buat hemat sampai kamu bayar hutang kamu.”

“Ya ampun, memangnya aku hutang berapa sih? Ditagih nya terus-terusan?? Kamu kan masih ingat jalan ke rumah aku, kenapa ga datang ke rumah dan minta bayar?”

“Aku kan gak tau kamu udah dapat kerja?”

          Daniel memang gak tau perkembangan Ola selama ini, karena sudah 3 bulan belakangan dia ada di Singapore untuk urusan bisnisnya. Mereka memasuki resto dan Daniel menunjuk sebuah meja di sudut ruangan mengarahkan agar Ola berjalan kesana sementara dia memesan makanan.

“Aku yang pesan yah, nasi goreng kamu suka?”

“Yah boleh, tapi ini masuk tambahan hutang aku gak?”

Daniel tertawa melihat wajah cemberutnya Ola. “Gak, baju renang nya juga bisa dianggap gratis, asal….. temenin aku makan malam setiap hari.”

Aku mencubit punggung tangan Daniel, dan membuatnya meringis kesakitan.

“Ya ampun, suka banget nyubit.”

“Makanya, jangan aneh-aneh. Memang kenapa juga harus nemenin kamu makan malam terus? Aku juga sibuk, ada kerjaan.”

“Oh, kan cuma nawarin aja. Kalau gak mau juga gapapa, tapi jangan pake nyubit.”

          Untung pelayannya datang mengantar minuman sebelum aku semakin mengeluarkan kata-kata menyebalkan untuk Daniel. Aku minum untuk menenangkan perasaanku, yang entah kenapa selalu berbeda bila dekat dengan Daniel, tapi perasaan itu selalu membuat aku mudah sekali ceplas-ceplos bila bicara ke Daniel. Dia selalu bisa merespon ucapanku dengan menyenangkan.

          Selesai makan, Daniel langsung mengantar aku pulang ke rumah. Seperti biasa, dia melaju dengan sangat cepat, sepertinya dia punya cita-cita menjadi pembalap. Aku jadi harus memegang pinggangnya. Sampai di depan rumah, aku turun dari motor dan ketika tanganku menyerahkan helm ke arah Daniel, tangan Daniel menarik tanganku, sehingga aku reflek maju beberapa langkah agar tidak terjatuh. Daniel membuka helm nya, menarik helm ku dengan tangan kanan nya, dan tangan kirinya menarik pinggang ku untuk melangkah lebih dekat ke arah nya.

“Daniel.”
“Ehm.”
Aku memanggil nama nya saat bibir Daniel menyentuh bibirku, awalny lembut, tapi Daniel seperti sudah lama menahan nya, dia semakin dalam mencium ku, disaat aku menggerakkan tanganku untuk menjauhkannya, dia semakin erat memeluk pinggangku. Aku tidak melakukan perlawanan atas ciuman Daniel, aku merasa nyaman dengan cara Daniel, dan membiarkannya melakukannya. Sampai kemudian Daniel bernapas terengah-engah, begitu juga denganku. Dia melepaskan ciuman nya, dan mendaratkan kecupan di keningku.

“Maaf Ola, aku gak bisa menahannya.”

“Daniel, aku gak tau harus marah ke kamu seperti apa.”

“Ola, jangan marah yah. Dan jangan ngejauh dari aku.”

“Anggap saja ini gak pernah terjadi yah Daniel, mungkin kamu sedang kedinginan, dan tidak sadar.”

Daniel menggenggam jemariku, “ Ola, maafin aku. Tapi aku sadar melakukannya. Jangan pernah biarin orang lain melakukan itu ke kamu yah selain aku.”

“Kenapa kamu boleh Daniel?”

“Karena kamu mengizinkan aku Ola” Sebelum aku membalas kata-kata Daniel, Daniel sudah mulai menciumku lagi, kali ini lebih lembut.

“Daniel, nanti bisa dilihat tetangga. Sudah kamu pulang sana. Terima kasih sudah mengantar aku. Ini handphone ku, kemarin kamu minta kan?”

“Oh iyah, hampir lupa. Sini.”
Daniel mengambil hp ku, dan menekan beberapa tombol, dan kemudian sebuah dering berbunyi. Daniel menelepon ke hp nya.

“Nah, ini no aku. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Kalau pulang malam juga minta aku jemput aja. Ini no kamu, nah kalau aku butuh uang, aku telepon kamu yah.” Daniel tersenyum lalu mengedipkan sebelah mata nya.

          Aku berjalan masuk ke rumah, dan kemudian aku mendengar suara mesin motor Daniel yang makin lama makin menjauh. Aku masih belum bisa mengerti, kenapa aku membiarkan Daniel menciumku, dan aku tidak memarahinya sama sekali. Aku malah merasakan sesuatu yang aneh.
______________________###


Ola..la part7



Teman baruku dan Pekerjaan baruku

          2 bulan berlalu dan aku masih berkutat dengan bolak-balik ke kantor pos untuk mengirim lamaran kerja. Laptopku juga seperti memasang layar protes karena jenuh melihat wajahku selalu di depannya. Aku membuka berbagai situs yang menyediakan iklan lowongan kerja, yah walau kadang-kadang jari ini suka tidak bersahabat dan membuat nyasar ke situs-situs penjualan online.
         
          “Sabar-sabar, belum punya gaji, mau hutang belum tau kapan bisa bayarnya. No online and offline shopping”. Jika sudah membaca mantra ini, jariku akan sedikit bertobat dan kembali mengetik situs-situs yang mudah-mudahan bisa memberikan aku penghasilan secepatnya.
         
          Berbagai foto dengan berbagai pose terbaikku aku siapkan, untuk melengkapi syarat-syarat apply secara online. Termasuk foto-foto ku di Prancis, karena biasanya mereka akan meminta foto terbaru, dan foto-fotoku di Prancis adalah foto ku yang paling baru.
         
          Jika sedang memilah milih foto, foto si jelek tamu tak di undang sering menampakkan diri. Entah kenapa setiap kali aku melihat fotonya, sudut bibir ku akan ketarik dan pertunjukan gigi kuning dimulai. Ada beberapa fotonya yang aku ambil candid,mulai dari yang dia tersenyum, manyun, melotot, teriak, dan ada juga gaya serius nya. Hampir semua hasil fotonya jelek, ga tau kameranya yang jelek, atau memang dasarnya dia yang jelek. Yang pasti ga mungkin si pengambil gambar yang jelek atau kurang handal. ^^

          Sudah sejak Daniel mengantarkanku pulang dari bandara, kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi. Aku juga tidak tahu kemana harus menghubungi dia untuk sekedar membayar hutangku. Tetapikan dia bisa mencari aku ke rumah.

-------------------##

          we are never ever getting back together, you talk to your friend, talk to my friend, talk to…. “Halloo?”

“Hallo, Yolla…….. kemana aja ga pernah ngampus???”

“Eh Dono, ga ngampus ga berarti sakit telinga. Pelan bisa kan bicaranya. Iyah nih, lagi butuh suntikan dana Don. Lagi nyari kerja, lagipula ini kan baru minggu pertama masuk, pasti baru pengenalan materi dan dosen.”

“Yup, betul, tenang aja Olala, belum ada tugas apapun, jadi ga perlu khawatir. Tapi yang satu ini, kamu mesti tahu, ada mahasiswi baru di kelas.”

“Terus kenapa kalau ada mahasiswi baru? Takut ga kebagian tempat duduk? Dan Dono, yang satu ini kamu juga mesti tahu, jangan panggil aku Olala!”

“Yah siapa yang duluan mulai? Nama Dony Camryn Arielta. Bagian mana yang ada Dono nya?? Ada banyak pilihan, bisa Dony, Cam juga boleh, Ari juga oke, kenapa malah milih Dono sih?? Anak baru ini…..swwweeeettt banget Ola.”

“Sweet nya kamu aku udah tahu kok. Ga bikin penasaran, udah yah Don, ngantuk nih.”

“Eh, Ola, ini siang, masa ngantuk??”

“Ngantuk ngedengerin suara bebek berkicau.”

Tuuuttt..tuuuuttt…. Pasti begitu bunyi hape Dony. Aku putus teleponnya tanpa basa-basi lagi.
Dony, sahabat kuliahku, sekaligus kakak bagiku di tempat kuliah. Bank berjalan untukku, tapi akulah suplier tugas untuknya. Ini namanya simbiosis mutualisme.
----------##

“Hai, Tasya.”

Sebuah tangan terulur ke arahku, dan mengajak tanganku untuk membalasnya.

“Ola.” Aku menyeringai bingung, jadi ini Tasya yang selalu mengganggu tidurku. Selalu datang nama nya setiap aku mau menutup mata untuk tidur, bahkan kadang namanya membangunkanku di tengah malam saat aku sudah ke alam lain.
Ya ampun, Dony benar-benar kelewatan, sindrom kasmaran stadium akhir. Selalu aja telepon, sebelum aku tidur, pas aku tidur, bahkan saat aku di kamar mandi masih dipaksa untuk tetap mendengarkan dia menyebut nama Tasya.

“Dony banyak cerita tentang kamu Ola, tapi baru sekarang yah kita bisa ketemu. Katanya kamu lagi sibuk cari kerja?”

“Ah, iyah Tasya. Jadi malu, Dono cerita apa saja ke kamu tentang aku?”
Dan sebuah sikut terdampar di pingganggku, diiringi bisikan misterius “Dony, Ola please stop panggil aku Dono apalagi di depan Tasya!” Aku meringis kesakitan.

“Cerita yang baik-baik. Dony bilang kamu kerja sambil kuliah, dan sekarang lagi mau cari tempat kerja baru. Doni juga bilang kalian dekat sejak awal masuk kuliah, dan seperti kakak adik.”

“ah syukur.Iyah, kita ga lebih dari kakak adik. Yaudah Tasya yuk masuk kelas.”

Aku dan Tasya duduk bersebelahan, tentu saja dengan Dony di sisi lain Tasya. Tasya lebih banyak diam memperhatikan penjelasan dosen, aku lebih banyak membuka smartphoneku, tapi yang sebenarnya kurang smart karena lemotnya saat akses internet, aku masih harus cari-cari lowongan. Dan Dony, sudah dipastikan, dia harus pilih antara pakai kacamata kuda atau ga lulus semester ini, matanya selalu melirik ke arah kiri, Tasya.
-------###

“ Ola, aku boleh yah sering-sering main ke rumah kamu, sepertinya aku butuh banget teman belajar. Kamu tahu kan kalau belajar bareng Dony pasti sambungannya jadi Tulalit…Tulalit….”
 Aku dan Tasya tertawa bersamaan mendengar lelucon Tasya, setelah beberapa lama kami sering menghabiskan waktu bersama, sepertinya virus ceplas-ceplosku telah menular kepadanya.

“Boleh aja Sya, tapi aku harus cari kerja dulu, nah nanti jam belajarnya tinggal kita cocokin aja sama jam kerja aku.”

“Kamu masih belum dapet kerja La??”
Aku menggeleng menjawab pertanyaan Tasya, lalu aku melangkah duluan mendahului Tasya dan Dony, tanganku melambai ke arah mereka, dan aku mempercepat langkahku.

Sudah hampir 4 bulan aku masih belum bekerja, bukannya tidak ada panggilan, tapi beberapa psikotest tidak bisa aku lewati, beberapa tes wawancara yang ingin nilai plus dalam bahasa Inggris membuat aku menyerah, dan ada beberapa lowongan yang tidak aku penuhi spesifikasi persyaratannya. Perusahaan-perusahaan memang sangat berkuasa, mereka bisa dengan mudah memasang syarat yang membuat pelamar kerja harus membuat dirinya berkualitas. Karena kenyataan menunjukan jumlah lapangan pekerjaan jauh sangat sedikit dibandingkan jumlah pelamar kerja nya, jadi siapa yang berkompeten mereka yang lebih berpeluang.

Aku ada panggilan psikotest hari ini, makanya aku pulang terburu-buru meninggalkan Dony dan Tasya. Aku melangkah melewati gerbang kampus, dan langsung naik angkutan umum yang selalu setia menunggu di depan gerbang sekaligus membuat jalanan macet. Setelah mendapat beberapa penumpang lainnya, angkutan umum mulai berjalan. Turun dari angkutan umum aku menyetop sebuah taksi, dan mulai menyebutkan nama sebuah gedung di daerah Sudirman.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”
Seorang security menghampiriku yang sedang sibuk membaca pembagian lantai di gedung ini “Selamat siang, saya ada panggilan kerja di Dan’s Adv, saya agak lupa lantai berapa yang mereka sebutkan.”
“Oh, Dan’s ada di lantai 3 - 9, ada resepsionis di lantai 3, sebaiknya anda ke lantai 3 dahulu.”
“Oh iyah, terima kasih pak.” Aku memberikan senyuman untuk security tersebut, dan mulai berjalan ke arah lift. Beberapa saat menunggu dan pintu lift terbuka. Aku masuk dan menekan tombol 3.

“Selamat siang, saya ada panggilan psikotest hari ini, dimana  tempat psikotestnya?”
“Maaf dengan ibu siapa?”
“Ola, Yola Yulista.”
“Baik ditunggu sebentar ibu.”
Aku langsung menghampiri meja resepsionis yang ada di dekat pintu lift. Dan sekarang seorang wanita cantik berkulit putih dan pakaian kerja yang kasual sedang sibuk menelepon seseorang dan sesekali menyebutkan namaku.

“Ibu Yola, anda bisa naik ke lantai 4 lalu bertemu dengan ibu Danita.”
“Oh baik, terima kasih.”

Aku berjalan menuju tangga darurat dan naik tangga ke lantai 4, sudah kebiasaanku bila hanya naik 1 tingkat aku akan menggunakan tangga, ini termasuk olahraga murah.

Seorang wanita cantik, terlihat seusiaku, terawat dan berwibawa cara bicaranya. Ia menunjukkan jalan kesebuah ruangan, dan ada beberapa orang didalamnya, terlihat bersiap-siap untuk mulai mengerjakan soal test. “Anda sedikit terlambat, tetapi masih belum terlalu terlambat, semoga sukses.”
Wanita itu menutup pintu ruangan setelah aku masuk, dan ia pergi meninggalkan ruangan. Aku mengambil sebuah tempat dan mulai mengerjakan soal-soal.
_________________###

“Dia sudah disini Tasya, dan setelah ini kamu harus tetap menjaga pertemanan dengannya, dan bersikap seolah-olah senang dan kamu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang dia dapat.”

“Tenang ka’Danita, Ola memang sudah benar-benar menjadi teman bagiku, semoga dia betah di Dan’s.”

Ola, apa yang menjadi kelebihanmu, aku penasaran, seperti apa orang yang sudah berhasil membuat kakakku merasa takut pada perasaannya sendiri.
___________________###

Wow, hari keberuntunganku. Aku lolos psikotest, langsung mengikuti sesi wawancara, dan aku diterima. Aku akan masuk kerja 3 hari lagi, dan aku harus mengabari ka’ Yordanio.

“Malam kak, Ola punya kabar baik hari ini, Ola diterima kerja di sebuah perusahaan advertising k’.”
“Wah, selamat Ola, semoga lingkungan kerja nya menyenangkan.”
“Beberapa terlihat ramah, tapi mereka punya 7 lantai, dan aku baru masuk 1 lantai. Aku akan jadi staff editor  kak.”
“Kuliah kamu Ola? Setau kakak editor itu lumayan berat pekerjaannya.”
“Aku sudah bilang tentang kuliah kak, mereka sangat mendukung karyawannya untuk terus meraih gelar pendidikan. Mereka memiliki jam kerja fleksible, dan deadline. Pekerjaan boleh diselesaiikan dirumah, yang penting sesuai batas waktu.”
“Pengalaman baru Ola, kakak dukung kamu.”

Aku bercakap-cakap sebentar tentang kehidupan kakak disana, aku menelepon orang tuaku, dan tentu saja Dony. Aku harus memberi tahu mbok besok pagi.

Prilaku Produsen



Prilaku Produsen

                Yakni kegiatan pengaturan produksi sehingga produk yang dihasilkan bermutu tinggi sehingga bisa di terima di masyarakat dan menghasilkan laba. Laba merupakan suatu ukuran keberhasilan bagi produsen.
               
 Berikut beberapa contoh prilaku produsen:
-          - Mencari keuntungan dengan pemakaian seminimal mungkin tapi dengan hasil semaksimal mungkin.
-          - Mematok biaya produksi berdasarkan tingkat harga barang modal.
-           - Memberi potongan harga kepada konsumen yang membeli produk dalam jumlah banyak.
-          - Tidak hanya menghasilkan barang atau jasa yang sesuai kebutuhan, tetapi juga yang sesuai trend pasar saat ini.
-          - Memberi diskon untuk produk lama.

Berikut prilaku produsen dalam kegiatan produksi: 
      >> Perencanaan                     : Faktual, realistis, logis, rasional, fleksibel, komitmen, dan komprehensi.
-          >> Pengorganisasian             : Segala aspek disusun dan diorganisir agar efektif dan efisien, dengan pembagian tanggung jawab yang jelas.
-         >> Pengarahan                        : Suatu cara bagi produsen untuk memberikan informasi dan tujuan produksi, agar semua pihak memiliki paham dan tujuan yang sama, sehingga bisa memaksimalkan proses produksi.
-         >> Pengendalian                    : Produsen mengontrol keseluruhan proses produksi.
 

De_windows © 2008. Template Design By: SkinCorner