Akhir
Besok adalah hari jadi pernikahan kami yang kedua, aku
sama sekali tidak sesemangat seperti tahun pertama. Aku tidak berencana membuat
sarapan istimewa, apalagi kue. Aku masih sibuk mengetik di laptopku hingga
larut malam. Aku malah sibuk membuat rencana untuk menyudahi pernikahan ini.
Album foto, foto di dalam dompet, dan semua sikap Niko yang dingin padaku,
semakin meyakinkan aku untuk mundur dari pernikahan yang dingin ini.
Aku menyiapkan sarapan yang sangat biasa pagi ini, dan
Niko tampak memandangiku.
“kamu lupa sesuatu hari ini Vin?”
“Hah?? Apa yang aku lupakan?”
“Oh, tidak ada, aku pikir kamu lupa cara membuat
sarapan yang enak.”
“Aku agak lelah, maaf yah Ko sarapannya hanya begini.”
“Gapapa Vin, yaudah aku berangkat dulu.” Niko
mendekatiku, mecium keningku, dan kemudian kedua pipi ku.
Aku agak terkejut, tidak pernah sebelumnya Niko
mencium pipiku. Apalagi ini, saat aku mulai menguatkan hatiku untuk
melepaskannya, dia malah membuat hatiku kembali berdebar. Aku mengantarkannya
sampai di pintu, setelah melihat mobilnya melaju meninggalkan rumah, aku
kembali masuk untuk mebersihkan rumah. Selang beberapa menit, aku mendengar
suara klakson motor dari arah depan rumah, aku keluar melihat dari jendela,
seorang pengantar bunga berdiri di depan pagar rumahku. Sebuah buket bunga
mawar putih yang cantik, dan sebuah kartu ucapan kecil bertuliskan “ For my
Wife”.
Aku meletakkan bunga-bunga itu ke dalam vas bunga di
meja makan yang biasanya kosong tidak terisi bunga. Karena hanya di meja ini
aku dapat memiliki waktu lebih lama bersama Niko, kami jarang sekali bersama
diruang tengah walau sekedar untuk menonton acara tv bersama-sama.
Siang ini aku berencana ke rumah mama ku, tapi aku
agak ragu, bagaimana kalau mama Ika sudah bicara dengan mama tentang aku yang
masih belum hamil juga. Aku akhirnya mengurungkan niatku. Aku kembali ke kamar
dan mengetik di laptopku, tentang kegelisahan ku akan nasib pernikahan ini, dan
tentang bagaimana aku menjelaskan kepada kedua orang tua ku dan mertua ku,
bahwa selama pernikahan ini, kami tidak pernah tidur dalam satu ranjang.
Aku ternyata tertidur, dan bunyi hp ku membangunkanku.
“Hari ini ga perlu masak, kita makan diluar yah.” Sms
dari Niko dan aku tidak berniat untuk membalasnya.
Suara mobil Niko terdengar di depan rumah, aku hampir
tidak percaya, ini baru jam 5 sore, dan si pekerja keras itu sudah pulang,
rasanya baru beberapa menit tadi dia mengirim sms.
“Kamu belum mulai masak kan?”
“Kamu ga salah lihat jam kantor?”
Niko tidak menjawabku, dan langsung melangkah kearah
dapur.
“Ah, syukur ga terlambat.” Niko masuk kedalam kamarnya
dan mengambil handuk untuk mandi.
“Apa sih maksudnya?”
“Kamu baca sms aku kan, karena kamu ga balas aku takut
kamu lagi sibuk masak makanya ga baca sms aku. Kita makan diluar yah, kamu
buruan mandi sana.” Niko berteriak dari dalam kamar mandi.
*****
“ Aku tahu kamu sakit apa selama ini.” Niko berbicara
sambil tetap menatap makanannya.
“Aku ga sakit Ko, waktu itu aku cuma becanda.”
“Kamu lupa yah hari ini hari apa?”
“Hari Kamis.”
“Kamu terima buket bunga dari aku tadi pagi?”
“Iyah, tumben, tapi terima kasih yah.”
“Sama-sama, baru aku kasih bunga satu buket aja kamu
berterima kasih, aku yang hampir setiap hari kamu buatkan masakan aja belum
berterima kasih.” Kali ini Niko berbicara dengan memandangku dan tersenyum.
“Yah, aku masak nya ikhlas kok, ga perlu terima kasih
juga.”
“Terus aku juga berterima ksih karena kamu selalu membereskan
kamar aku dan membersihkan lantainya.”
“Apaan sih Ko, terima kasih terus, memang itu sudah
tugas aku, lagian aku melakukannya karena aku ga ada kerjaan lain.” Nada suara
ku mulai mengeras, aku merasa seperti benar-benar akan berpisah dengan Niko,
dan ucapan terima kasih yang terus menerus darinya seperti tanda dia akan
meninggalkan aku.
Niko terdiam setelah suara ku yang tadi sempat
mengejutkannya, kami makan tanpa suara sekarang, bahkan sampai kami selesai
makan. Niko membayar tagihan dan membuka dompetnya, aku melihat sebuah foto pra
wedding kami dipajangnya di dompetnya. Aku tersenyum, dan lagi-lagi hatiku
mulai berdebar disaat aku meyakinkan diri untuk lepas dari Niko.
Niko mengemudikan mobilnya tanpa banyak melihat ke
arahku, dia tampak sibuk memperhatikan jalan yang sudah gelap. Sesekali aku
melirik ke arah nya, memastikan arti dari ucapan terima kasihnya yang terus
menerus melalui mimik wajahnya. Seperti menyadari kalau sedang diperhatikan,
Niko mengarahkan tangannya ke arah radio, dan menghidupkan radio, sampai kami
tiba dirumah.
Aku berjalan masuk duluan kedalam rumah, dan Niko
hanya berjarak beberapa langkah dibelakangku, aku menyalakan lampu ruang tengah
dan bermaksud membuka pintu kamarku sebelum dua buah tangan merangkulku dari
belakang.
“Nama nya Nita, dia mantan kekasih aku. Kenapa kamu
tidak menanyakan apa yang ingin kamu ketahui?”
“Apa maksud kamu Ko?” Aku berbicara tetap dengan
pandangan membelakangi Niko.
“Nita pacarku saat kami masih kuliah dulu, bahkan
sampai kami lulus dan bekerja. Aku memang sangat mencintainya, bahkan aku
pernah membicarakan rencana pernikahan dengan nya. Tetapi, suatu saat Nita
mendapat tawaran untuk melanjutkan studi S2 nya di Jerman, aku sudah berusaha
untuk meyakinkannya menikah denganku, tetapi dia memintaku menunggu nya sampai
S2 nya selesai dan dia akan kembali.” Kali ini kedua tangan Niko menggenggam
kedua tanganku.
“Aku mempercayainya, aku terus menunggunya, satu tahun
kepergiannya kami masih sering berkomunikasi, tetapi masuk tahun kedua kami
mulai jarang berkomunikasi, Nita menjadi sangat sulit dihubungi, di bilang dia
sangat sibuk dengan kuliahnya dan kerja part time nya. Aku terus menunggu nya,
sampai hari itu aku mendapat kabar pernikahan nya dengan seseorang di Jerman. “
“Kabar itu aku dapatkan beberapa hari sebelum
pengumuman perjodohan kita, dan sekarang aku akan menjawab kenapa aku hanya
diam menerima perjodohan ini dan pernikahan kita, karena saat itu pikiranku
sedang kacau, aku bahkan tidak bisa memikirkan masalah itu, dalam pikiranku
yang ada hanya kesedihan akan kenyataan yang diberikan Nita untukku. Aku memang
pengecut, aku yang harusnya bertindak tegas saat itu.”
Air mata mulai mengalir di pipi ku, jadi apakah aku
hanya pelarian baginya, pernikahan hanya untuk pelarian?
“Satu tahun masa pendekatan kita, aku masih dalam masa
menunggu kepulangan Nita, aku bersikap dingin padamu, karena aku sama sekali
tidak mau memberikan harapan yang tidak dapat aku pertanggungjawabkan nantinya.
Aku berusaha menjaga jarak dengan mu, dan aku belum bisa mengatakan pada mama
ku bahwa aku sedang menanti seorang gadis.”
Aku membalikkan tubuhku, dan kini mataku menatap wajah
Niko yang penuh kesedihan, yang sebelumnya tidak pernah aku lihat. “Baiklah,
aku juga ga mau menjalani pernikahan yang ga akan ada masa depannya, kalau ini
hanya sebuah pelarianmu dari sebuah masalah, aku sudah memaafkan kamu Ko, aku
siap apapun yang akan terjadi.”
Niko meletakkan kedua tangannya di pipiku, “ Satu
tahun pernikahan kita, aku selalu pulang larut malam, aku tidak tega melihat
mu, dan aku terus berpikir apakah aku sudah melakukan kesalahan dengan merusak
masa depanmu, aku terus berpikir apakah pernikahan ini hanya sebuah pelarian
bagiku. Mungkin awalnya iyah, tapi seiring waktu, aku tahu aku bersyukur karena
Tuhan menghadirkan kamu dalam hidupku.”
“Aku selalu menghabiskan makan malam yang kamu hidangkan,
aku tahu masakan di awal pernikahan kita adalah masakan mama, tapi beberapa
bulan kemudian, ada beberapa masakan yang rasanya aneh, kurang rasa, kadang
agak asin, tapi aku tetap memaknnya sampai habis, aku sendiri saat itu tidak
mengerti kenapa aku terus saja memakan masakan itu sampai habis. Kamu ingat
saat kamu berhenti memasak untukku selama beberapa hari, aku benar-benar merasa
kelaparan, dan malam hari saat kamu menyuruh aku membeli makan diluar, aku
tidak pernah makan malam, aku tidak terbiasa makan malam diluar sendirian. Seumur
hidup, baru kali itu aku merasakan yang namanya kelaparan.” Sekarang tangan
Niko mulai mencubit pipi ku, dan aku hanya tersenyum.
“Sejak saat itu aku tahu, kamu sangat berarti,
berhentilah berpikir untuk menyudahi pernikahan ini, karena aku sama sekali
tidak berniat melakukannya. Mulai saat ini, aku akan membantumu menjawab
pertanyaan mama tentang cucu yang dinantikannya. Dan jangan marah, karena aku
ingin berterima kasih lagi kepada mu, terima kasih sudah sabar menghadapiku
selama 2 tahun ini, dan menyadarkanku, bahwa ada cinta sesungguhnya dihari-hari
ku selama ini.”
Niko memelukku dan menciumku. Malam ini kami akan
sibuk, karena Niko akan memindahkan barang-barangnya ke kamar ku, dan mulai
tidur dikamarku.
Mungkin malam ini aku harus berterima kasih pada
seseoarang yang dahulu mencampakkan ku, sehingga sekarang aku bisa merasakan
cinta seperti ini. Semua ini memberikan aku banyak pelajaran, tentang cinta
yang tidak dapat dipaksakan, tentang jodoh terbaik yang telah disiapkan Tuhan,
tentang air mata yang tidak sia-sia, tentang sahabat yang menjadikan hidup
lebih baik,tentang naluri orang tua yang tahu apa yang terbaik untuk anaknya, dan
tentang suci nya sebuah pernikahan.
Tamat.
0 komentar:
Posting Komentar